Warga Kampung Cireundeu Dalam Mempertahankan Kearifan Lokal

Hampir seluruh penduduk Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok, namun baru hampir, belum semua. Contohnya saja warga kampung Cireundeu, sejak tahun 1918, mereka tidak pernah membutuhkan beras karena telah sepenuhnya mengantikan beras dengan singkong.

Menurut Jajat (36), staf ‘humas’ Kampung Cireundeu, tradisi mengkonsumsi singkong dipelopori oleh ibu Omah Asnamah, Putri Tokoh di Kampung Cireundeu, Haji Ali.

Hingga kini, sesepuh adat dan warga kampung Cireundeu menjadikan singkong sebagai makanan pokok. Warga Cireundeu tak pernah bergantung dengan beras, mereka juga tak pernah kekurangan pangan atau kelaparan akibat melunjaknya harga beras.

Warga Adat Cireundeu dipimpin oleh seorang Sesepuh, bernama Abah Emen (80), dan Ais Pengampih (wakil sesepuh), Abah Widi (60). Mereka juga memiliki Panitren yang berfungsisebagai ‘humas’, yaitu Abah Asep Wardiman (45).

Warga Kampung Cireundeu berpedoman pada prinsip hidup warisan leluhur, yakni : “Teu nyawah asal boga pare, Teu boga pare asal boga beas, Teu boga beas asal bisa nyagu, Teu nyangu asal dahar, Teu dahar asal kuat”. 

Yang artinya : “Tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat”. Prinsip hidup tersebut ditanamkan agar manusia ciptaan Tuhan tidak tergantung pada satu bahan makanan pokok saja.

Alasan lain, warga yang tinggal di perkampungan berjarak 11 km dari kota Bandung itu tidak pernah berurusan dengan beras adalah mereka tidak ingin bergantung pada beras karena mereka ingin merdeka lahir batin. Dulu saat dikuasai penjajah, kita dibuat kelaparan, olehkarenanya kita mencari makanan pengganti beras agar tidak lapar dan tetap bisa berjuang, begitu jelas Jajat.

Beras Cireundeu

Beras Cireundeu atau biasa disebut Rasi atau beras singkong merupakan makanan utama yang mengandung karbohidrat. Rasi memiliki kandungan energi yang hampir setara dengan beras dari padi, kandungan kalorinya juga rendah sehingga cocok untuk diet. Tidak hanya itu, kandungan serat kasar yang terdapat dalam rasi bersifat baik, juga kadar abu 1,9persen per 100 gram, menandakan bahwa beras Cireundeu ini sangat menyehatkan pencernaan.

Selain diolah sebagai beras, warga Cireundeu juga mengolah singkong mejadi awug singkong, gethuk ditaburi kelapa parut, opak, kecimpring, ciwel, gaplek, kripik bawang, egg roll, kembang goyang,, dendeng singkong, sayur daun singkong atau surandil dan tentu saja diolah menjadi tapai atau peuyeum.

Selama hutan di sekitar perkampungan mereka terjaga dengan baik, warga Cireundeu tidak akan pernah kekurangan air sebagai sumber kehidupan, maupun singkong sebagai sumber pangan. “Bercocok tanam juga tidak sembarangan. Kami tetap menjaga dan mengikuti aturan-aturan warisan leluhur, termasuk hidup tanpa nasi” jelas Jajat.  Saat berpergian keluar kampung pun mereka tetap mengkonsumsi singkong dan membawanya sebagai bekal saat berpergian.

Bagaimana dengan teknologi?

Walaupun hidup di komunitas kampung adat, namun Cireundeu berbeda dengan Kampung Naga di Tasikmalaya dan Baduy di Banten. Tokoh Pemuda Kampung Cireundeu, Mira Sukma (38), menjelaskan “Kami tak pernah dilarang  mengikuti perkembangan teknologi komunikasi dan alat transportasi. Prinsip kami ‘ngindung ka waktu, mibapa ka jaman’, yang ditafsirkan tetap menjaga adat dan budaya warisan leluhur, tapi tetap mengikuti arus perkembangan zaman, khususnya perihal teknologi dan komunikasi”.

Pemukiman di Kampung Cireundeu tidak beda dari pemukiman umum yang mengunakan bangunan semi permanen. Mereka tak beda dari warga perkampungan lainnya, yang menggunakan telepon selular, televise, dan memiliki kendaraan.

“Perkembangan teknologi tak pernah menghalangi kami untuk mempertahankan kearifan lokal. Kami tetap mengikuti perkembangan zaman dengan syarat tidak melupakan budaya sendri” ujar Sukma.

Sumber : beritagar.id




Last Update : Jun, 25 2017, 12:17 pm

Petani bulan ini

Ibu Tarsiah 42 Tahun, Sukabumi

Menjadi petani singkong  memang sudah  turun temurun dari orang tua Ibu Tarsiah

Namun hal tersebut  tidak mengurangi  rasa cinta dan rasa bangga ibu tarsiah menjadi petani singkong.

Hal tersebut pun ia tanamkan ke anak beliau, Suri  16 Tahun yang saat ini tengah duduk di bangku SMA.

Tanpa kenal  lelah dan malu suri ikut membantu ibunya di kebun setiap pulang sekolah dan hari libur.