Olahan Singkong Semarakkan Hari Kemerdekaan Indonesia

Perayaan hari kemerdekaan RI seringkali diramaikan dengan berbagai lomba-lomba. Di Desa Karanganyar, Kuningan, Jawa Barat, salah satu lomba yang diadakan adalah Lomba Kreasi Olahan Singkong. Lomba yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk lokal melalui inovasi masyarakat.

Bagi masyarakat lereng Gunung Ciremai, salah satunya Desa Karanganyar, singkong telah menjadi komoditi unggulan. ”Singkong merupakan potensi desa yang perlu diperhatikan. Lomba mengolah singkong ini adalah yang pertama kali dilakukan,” terang ibu Ipah setelah selesai melakukan penjurian.

Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam. Kekayaannya yang melimpah menjadikan Indonesia memiliki banyak corak dan ciri khas yang beragam, termasuk makanan.

Dalam Lomba Kreasi Olahan Singkong Desa Karanganyar, banyak aneka kreasi yang disajikan oleh warga. Diantaranya adalah Selendang Mayang, Aneka Keripik, Gorengan, Kariwel, Putri Noong, Bugis Singkong, Oyek, dan Gastrok.

Dalam kesempatan yang sama, Ali Marken, Kepala Bidang Keuangan Desa Karanganyar, mengungkapkan bahwa gerakan pemanfaatan sumber daya lokal harus marak dilakukan. Hal ini memiliki relevansi dengan program Kabupaten Kuningan, yaitu “Tanam Panen Olah Jual”. Program ini merujuk kepada Ekonomi Kerakyatan, yakni sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat.

“Kami memiliki mimpi untuk menjadikan Desa Karanganyar sebagai sentra produk cemilan olahan singkong”, imbuh Ali.

Lomba Kreasi Olahan Singkong Desa Karanganyar merupakan kegiatan kerjasama masyarakat desa bersama Mahasiswa IPB dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik. Setelah lomba berakhir, mahasiswa akan melakukan kegiatan pembinaan UKM bersama warga. Para mahasiswa berharap masysarakat desa dapat memiliki produk mandiri dengan daya saing yang tinggi.




Last Update : Sep, 25 2017, 16:42 pm

Petani bulan ini

Ibu Tarsiah 42 Tahun, Sukabumi

Menjadi petani singkong  memang sudah  turun temurun dari orang tua Ibu Tarsiah

Namun hal tersebut  tidak mengurangi  rasa cinta dan rasa bangga ibu tarsiah menjadi petani singkong.

Hal tersebut pun ia tanamkan ke anak beliau, Suri  16 Tahun yang saat ini tengah duduk di bangku SMA.

Tanpa kenal  lelah dan malu suri ikut membantu ibunya di kebun setiap pulang sekolah dan hari libur.