Colenak, Makanan Legendaries dari Jawa Barat

Colenak, pasti bagi warga Jawa Barat nama colenak sudah tidak asing lagi. Colenak adalah nama makanan dibuat dari bahan baku singkong yang kemudian dijadikan tapai atau Peuyem.

Pemilihan nama Colenak pun cukup unik, diambil dari cara menikmati makanan ini, yaitu dicocol, kemudian dirasa enak, jadilah nama Colenak.  Berupa tapai bakar yang dicocolkan ke dalam gula cair yang dicampur dengan serutan kelapa.

Makanan tradisional Jawa Barat ini diperkenalkan oleh Murdi pada tahun 1930. Cucu Murdi, Betty Nuraety bercerita awalnya kudapan ini disebut peyeum digulain (tapai dicampur gula) dan setiap hari dijual oleh kakeknya di pingir jalan Ahmad Yani (Cicadas) No.733, Bandung, Jawa Barat.

Betty bercerita karena dulu Kakek Murdi berjualan di pinggir jalan, jadi saat dibakar aroma asapnya mengundang perhatian orang sehingga pembeli berdatangan ingin menikmati makanan dari aroma sedap itu berasal. Kemudian ada konsumen yang menyarankan agar makanan enak ini diberi ‘merek’, lalu tercetuslah nama colenak, karena cara makan yang dicocol ke gula merah berkali-kali dan banyak pembeli yang mengatakan enak. Jadilah Colenak.

Walaupun Pak Murdi telah wafat pada tahun 1966 di usia ke 72 tahun, namun bisnis Colenak ini masih terus berjalan dan menjadi salah satu makanan khas sunda yang legendaris, menjadi salah satu produk kuliner yang paling tua di Bandung. Pada tahun 1955, Colenak buatan Pak Murdi juga menjadi salah satu hidangan yang disajikan di Konfrensi Asia Afrika (KAA) di kota Bandung yang diharidi oleh Presiden Soekarno dan pemimpin dunia di Asia dan Afrika.

Kini makanan yang diberi label ‘Colenak Murdi Putra’ dijalankan oleh Betty Nuraety, cucu Murdi, generasi ketiga penerus bisnis ini. “Sejak dulu sampai sekarang, kami tetap menjaga kualitas rasa colenak. Cara pembuatan colenak juga tidak diubah” ujar Betty.

Beberapa customer mengusulkan agar adanya menambahan rasa Colenak, selain original. Kemudian diciptakanlah rasa Colenak Durian dan Nangka, yang masing-masing dibandrol dengan harga Rp 9000.

Sumber : detik.com




Last Update : Aug, 21 2017, 07:38 am

Petani bulan ini

Ibu Tarsiah 42 Tahun, Sukabumi

Menjadi petani singkong  memang sudah  turun temurun dari orang tua Ibu Tarsiah

Namun hal tersebut  tidak mengurangi  rasa cinta dan rasa bangga ibu tarsiah menjadi petani singkong.

Hal tersebut pun ia tanamkan ke anak beliau, Suri  16 Tahun yang saat ini tengah duduk di bangku SMA.

Tanpa kenal  lelah dan malu suri ikut membantu ibunya di kebun setiap pulang sekolah dan hari libur.