Brownies Singkong dari Yogyakarta

Kalau singkong banyak dikaitkan sebagai bahan baku makanan traditional atau bahkan makanan pokok pengganti nasi untuk mereka yang kurang mampu, kali ini singkong menunjukan bahwa makanan modern yang biasanya dijual di toko-toko fancy pun menggunakan bahan baku singkong karena terbuti enak dan begizi.

Salah satunya adalah Brownies. Brownies adalah makanan terbuat dari tepung terigu dan coklat yang dikembangkan di Amerika Serikat pada abad ke-19. Dari sisi pembuatannya, ada 2 jenis brownies, yaitu brownies panggang dan kukus. Dari sisi rasa, kini brownies bukan hanya identik dengan rasa coklat saja, kini banyak orang berkreasi dengan makanan satu ini dan menambahkan aneka rasa didalamya.

Dari bahan bakunya, banyak pula yang beralih dari tepung terigu ke tepung singkong, kerena dinilai menghasilkan rasa yang tidak kalah enak dari tepung terigu.

KCT Cassava merupakan salah satu pelakon bisnis kuliner di Yogyakarta yang menggunakan bahan baku singkong dalam pembuatan kue-kuenya. Sedikitnya, KCT Cassava sudah memperoduksi beberapa jenis produk olahan dari singkong, seperti cassava brownies, cassava rainbow, cassava lapis, cassava rainbow cake, dan lainnya.

Latar belakang Meril menggunakan singkong sebagai bahan bakunya karena kegemarannya terhadap makanan murah meriah itu. Selain itu, bisnis ini juga dirintis saat ia mengikuti ajang kompetisi “Wirausaha Mahasiswa” pada tahun 2009 silam.

“Yang membedakan Cassava cake dengan cake lainnya, karena kita fresh dari singkong langsung bukan dari tepung mocaf” jelas Meril Fiso Plantari (28), pemilik KCT Casssava. Hal ini memberikan nilai plus dibandingkan dengan produsen kue lainnya yang kebanyakan menggunakan bahan baku tepung terigu atau tepung tapioka yang berasal dari singkong. Untuk menciptakan sesuatu yang berbeda untuk menarik customer, Meril juga mengusung tagline : Brownies berbahan baku singkong alami tanpa tepung bukan tepung tapioka (singkong). 

Selain itu, dari cara produksinya, KCT menyajikan kue yang fresh from the oven. “Artinya konsumen akan mendapatkan kue dalam keadaan baru dan hangat karena baru saja selesai dibuat” ujar Meril dengan mantap. Konsep fresh from the oven ini juga bukan sekedar gimmick, bisa dibuktikan dari proses pembuatannya yang menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam, dari proses pemarutan singkong hingga selesai di oven dan disajikan.

Meril berharap kedepannya dapat menjadi produsen brownies singkong yang sukses di Yogya dan dikenal menjadi buah tangan Khas Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sumber : Bisnisukm.com




Last Update : Jun, 25 2017, 12:19 pm

Petani bulan ini

Ibu Tarsiah 42 Tahun, Sukabumi

Menjadi petani singkong  memang sudah  turun temurun dari orang tua Ibu Tarsiah

Namun hal tersebut  tidak mengurangi  rasa cinta dan rasa bangga ibu tarsiah menjadi petani singkong.

Hal tersebut pun ia tanamkan ke anak beliau, Suri  16 Tahun yang saat ini tengah duduk di bangku SMA.

Tanpa kenal  lelah dan malu suri ikut membantu ibunya di kebun setiap pulang sekolah dan hari libur.